Get the Connx App

Click here to learn more

connx-coin 50

by Connx ● November 17, 2023

Sosok - Bottlesmoker - Dari Warnet Hingga Mendapat Sorotan Internasional

● Entrepreneur 5.0 1 1,2k bm-ic share-ic

Bottlesmoker, musisi asal Bandung mampu menciptakan musik yang mengajak pendengar untuk berimajinasi. Duo kreatif, Anggung Suherman (Angkuy) dan Ryan "Nobie" Adzani, tidak hanya terampil dalam menghasilkan lagu-lagu yang indah, tetapi juga mengundang pendengar untuk menjelajahi petualangan eksploratif melalui suara yang inovatif dan aransemen yang memikat perhatian.

Setelah lulus dari kampus yang sama pada tahun 2006, Angkuy dan Nobie menemukan tugas masa kuliah mereka. Mendadak, mereka punya ide untuk berbagi musik itu ke banyak orang. Menggunakan warnet, tempat di mana orang biasanya internetan waktu itu. Dua sahabat ini menaruh file musik mereka di 6 warnet berbeda di Bandung dengan nama "Bottlesmoker".

Image Courtesy: Bottlesmoker

“Biasanya orang-orang ke warnet itukan untuk trading file, jadi kayak ngambil-ngambil data di warnet. Nah, kami sebarkan lagu-lagu itu di warnet. Terus supaya punya identitas, kita berdua mikirin nama, dan akhirnya kita mutusin nama Bottlesmoker yang diambil dari kebiasaan kita berdua,” Ucap Angkuy. 

Nama "Bottlesmoker" diambil dari kebiasaan Angkuy dan Nobie yang suka berjalan kaki dari kampus ke kosan, karena jarak yang cukup jauh dan udara panas di Jatinangor. Mereka selalu berbekal minuman yang akhirnya botol-botol bekas minuman itu menumpuk di kosan, mereka  juga sering gunakan botol-botol bekas itu untuk membuang puntung rokok.

Dari keisengan itu, tak disangka nama "Bottlesmoker" menjadi perbincangan oleh banyak orang. Bahkan, teman kampus mereka ikut merekomendasikan musik Bottlesmoker tanpa menyadari bahwa Angkuy dan Nobie adalah orang di baliknya. Dari sinilah mereka sadar bahwa karya mereka mulai disukai dan tersebar ke banyak orang.

Mengadopsi aliran musik elektronik tanpa vokal, Angkuy dan Nobie mengakui bahwa mereka berdua awalnya tidak memiliki kemampuan bermain alat musik konvensional. Namun, ketika diberikan software, mereka menemukan cara baru untuk mengekspresikan diri melalui musik. Dengan musik elektronik, mereka tetap lantang untuk bisa mengkomunikasikan pesan tanpa vokal dan lirik. 

Image Courtesy: Bottlesmoker

Debut Epik di Luar Negeri!

Setelah nama Bottlesmoker cukup dikenal di Bandung, Angkuy dan Nobie memutuskan untuk menjalankan grup musik ini dengan lebih serius. Mereka sepakat untuk mulai membuat album pertama pada tahun 2008 dengan album “Slom Mo Smile”. 

“Setelah rilis album pertama secara luas untuk publik, orang yang dengar semakin banyak ternyata ada yang positif ada yang negatif, dan itu baru pertama kali dapat respon negatif. Tapi karena lebih banyak yang positif jadi kita tetap yakin aja,” Ucap Angkuy. 

Sadar akan kebutuhan dalam mengelola Bottlesmoker, dua sekawan tersebut pun memutuskan untuk mengajak salah satu teman mereka yang bernama Yulius untuk menjadi Manager Bottle Smoker. Mulai pada saat itu, Angkuy, Nobie, dan Yulius pun berjalan bersama mengembangkan Bottlesmoker sembari melanjutkan pendidikan S2 hingga bekerja kantoran. 

“Selain di warnet dan sebelum adanya Soundcloud dan Spotify, kita sering membagikan lagu-lagu melalui MySpace dengan menampilkan profil yang sangat menarik,” ucap Angkuy tentang keisengannya itu. 

Image Courtesy: Bottlesmoker

Ternyata, dari situ, lagu-lagu mereka mulai tersebar hingga ke luar negeri, dan pada tahun 2009, pertama kali Bottlesmoker mendapat tawaran untuk manggung di Malaysia. Dari situlah tur pertama Bottlesmoker dimulai. 

Setelah manggung perdana di Malaysia, menjadikan kesempatan untuk Bottlesmoker bertemu dengan banyak kesempatan di berbagai negara, tawaran-tawaran untuk manggung di tempat lain pun terus mengalir, hingga kini.

Kehilangan dan Kebangkitan di Balik Album Terakhir

Perjalanan Bottlesmoker bukan berarti selalu berjalan mulus, pada tahun 2015, sang manager mengundurkan diri karena hendak mendirikan bisnis secara mandiri. Bagi Angkuy dan Nobie, kehilangan manager bagaikan kehilangan induk yang mengurus perjalanan mereka, pengelolaan Bottlesmoker sendiri sempat kesulitan semenjak Yulius meninggalkan tim.

Angkuy dan Nobie pun berusaha menjalankan Bottlesmoker secara independen tanpa bantuan manager, namun itu juga bukan berarti tanpa konsekuensi. Pada tahun 2017, aktivitas grup ini mengalami banyak kemunduran, sebut saja permintaan kerja sama dan manggung menurun, popularitas juga memudar. Tentu ini adalah masa yang sulit bagi mereka berdua. 

Image Courtesy: Bottlesmoker

Pada akhirnya, Angkuy dan Nobie memutuskan untuk merilis album terakhir untuk perpisahan bagi para penikmat karya mereka. Namun, album yang ditujukan untuk menjadi kenangan terakhir justru berbanding terbalik, album yang bertajuk “Parakosmos” justru mendapat respon luar biasa dari para pendengarnya.

“Album yang harusnya jadi perpisahan ternyata pecah, daripada saya dan Nobie ngurusin harta gono-gini, ya mending kita lanjutin saja, memang ternyata ada fase dimana kita diberi cobaan untuk sukses,” ujar Angkuy sembari berkelakar.

Setelah keberhasilan tersebut, Bottlesmoker pun kembali berjalan seperti semula, namun bedanya kali ini grup tersebut resmi menelusuri langkahnya tanpa manager. Angkuy dan Nobie yang sudah terbiasa dengan berjalannya grup tanpa Manager pun kini sudah mengetahui bagaimana mengelola Bottlesmoker agar bisa berjalan dengan baik.

Melangkah ke Dunia Film dengan Music Scoring

Berbicara tentang karier dan masa depan, Angkuy menyebutkan jika ia dan Nobie suatu saat ingin mencoba hal lain diluar bermusik, misalnya di industri perfilman. Angkuy secara khusus menyebutkan ketertarikannya pada dunia music scoring sebagai opsi strategis yang mengundang eksplorasi kreatif. 

Menyadari kompleksitas dalam menyusun suara untuk mendukung naratif visual, Angkuy melihat potensi besar dalam memberikan kontribusi artistiknya melalui dunia sinematik. 

“Kita pengen kedepannya bekerja di bidang film tapi di departemen musik, jadi kita bangun mulai sekarang, setidaknya mengumpulkan pengalaman supaya kedepannya mudah,” tutur Angkuy.

Dengan semangat untuk menjelajahi di industri perfilman, Bottlesmoker tidak hanya melihat masa lalu dan keberhasilan mereka dalam musik, tetapi juga merencanakan langkah-langkah menuju masa depan yang lebih luas. Dengan ketertarikan khusus pada musik, harapannya mereka juga dapat memberikan kontribusi pada dunia sinematik. 

Sebagai sahabat sekaligus rekan musik, Angkuy dan Nobie bersama-sama ingin menghadapi tantangan baru, dengan mengumpulkan pengalaman berharga yang akan membantu membentuk perjalanan mereka di masa yang akan datang.

 

Image Courtesy: Bottlesmoker

Bottlesmoker yang hanya dianggap sebagai mainan, seiring berjalannya waktu, "Bottlesmoker" telah menjadi wadah bagi Angkuy dan Nobie untuk menyalurkan ide, memberikan dampak positif pada kehidupan mereka. 

“Dalam perjalanan ini, saya bersyukur telah mencapai cita-cita dan impian bersama, didukung oleh lingkungan yang sehat dan keluarga serta teman-teman yang begitu mendukung, menyadari bahwa tidak semua band bisa merasakan hal yang sama,” tutup Angkuy. 

Itu dia tadi cerita Bottlesmoker, yang mungkin tak pernah terduga, telah menorehkan kisah musikal yang penuh semangat. Ayo simak perjalanan inspiratif lain di konten Sosok eksklusif di Connx.id!

Beri rating artikelnya!

Seberapa puaskah kamu?

photo profile

Idlismafitri

Keren

24 November 2023

coin

Selamat kamu berhasil dapetin Connx Coin! Terus explore untuk mendapatkan Coin lebih banyak!